Pages

Sabtu, 08 Februari 2014

6 Alasan kamu harus tinggal di Jember

          Jember merupakan kabupaten di timur Provinsi Jawa timur. Kabupaten ini digadang-gadang merupakan kabupaten/kota terbesar di Jawa timur setelah Surabaya dan Malang. Meskipun kabupaten ini bukan kabupaten seasyik malang atau surabaya buat destinasi wisata, karena di jember nggak ada wisata alam selain papuma yang diunggulkan oleh pemda tapi Jember cukup unik sebagai kota tinggal. Berikut ini beberapa alasan mengapa kamu emang harus tinggal di jember:

1. Jember merupakan kota kecil yang ada di pulau jawa yang memiliki PTN
Universitas Jember merupakan PTN paling timur di Pulau Jawa, tapi jangan anggap cuman ada 5 fakultas aja di sini. Universitas Jember memiliki 15 fakultas di antaranya Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran gigi, Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Fakultas unggulan lainnya. Dan yang paling penting biaya SPP per semester di kampus ini cukup berkisar 750.000(Sastra, FKIP)-2.000.000 (FK/FKG/Farmasi/PSIK)
emang ga bisa dibandingin ama rektoratnya UI atau UB, tapi gedungnya vintage banget lho


2. Satu kota,berbagai budaya
Satu hal yang bikin kaget pas pertama kali sampai di jember: kota ini ada di jawa, tapi tak hanya orang jawa yang tinggal di sini. Orang jember asli merupakan orang madura asli, peralihan madura-jawa (bisa bahasa madura lancar,jawa dikit), peralihan jawa-madura (jawa lancar, madura dikit), dan jawa (nggak bisa madura sama sekali) dan merasa orang indonesia (nggak bisa bahasa daerah sama sekali; selanjutnya disebut sebagai orang yang merugi). Kalo kamu orang yang cinta budaya dan selalu tertarik mempelajari bahasa baru, daripada kamu belajar bahasa korea yng udah terlalu mainstream, mending ke jember dan nikmati angin dua budaya di kota ini!


3. Makanan murah
Nggak selalu sih, tapi di banding Malang makanan daerah kampus di jember berkisar antara 3000-9000. Tapi hati-hati, Jember merupakan daerah endemik hepatitis A.
3rebu, yang bikin orang madura asli. Rasanya orisinil banget


4. No mall. No 21
Iya, jember nggak punya mall, jadi rada aman buat kantong. si 21 juga belum ngelebrin sayap di jember,cuman ada bioskop bukan franchise yang yang tiketnya seharga 21. Jadi males nonton, uang jadi lebih hemat kan?

5. Olahan  tape di mana-mana
Gegara Jember di daerah tapal kuda, tape merupakan kudapan wajib. dan kue prol tape di sini gede dan enak!
harga 1000-40.000 tergntung ukuran dan tempat pembelian


6. Ada Om Anang di mana-mana
Percayalah, kamu bakal nemu foto Om Anang di mana-mana. Di jalan, di angkot (kalo di jember nyebutnya lin) , di restoran-restoran bahkan yang mewah sekalipun. Om Anang udah bagaikan pangeran yang bisa dijadiin simbol kesuksesan di Jember apalagi setelah om ini bikin resepsi besar-besaran (yang disebut pemda buat narik minat turis) dan dikirab pake kereta kencana. Sungguh fantastis dan mengharukan!
Pangran dan putri dari negeri dongeng hahaha


Ya begitulah Jember, masih berminat tinggal di kabupaten ini kan?

Selasa, 04 Februari 2014

Semendal

Saya tak tahu apakah semendal itu salah satu kata bahasa jawa yang masuk pepak atau tidak. Yang jelas, secara sederhana artinya  rasa ketika kamu mengingat orang tuamu saat kamu diperantauan. Ingin  menangis tak boleh, diam saja juga tak bisa: Luar biasa sakit.

Sabtu, 01 Februari 2014

Cukup Sepertimu


Bagaimana cara agar aku dapat jadi sepertimu?
Kamu selalu ceria, kamu cerahi semua
Matamu memuncul asa, seakan tiada duka

Bagaimana cara agar aku bisa suka kamu?
semakin cerah dirimu, semakin enggan aku
kamu seakan bintang terang,
sedang aku jadi hilang

Bagaimana cara agar aku tak membencimu?
sedang hati ini terus meradang iri
selalu mencari kesalahanmu
hingga hilang jati diriku

Hei, cukup sepertimu
membuatku takut
dan hei, cukup sampai sini
kali ini aku menyerah, tak mengekorimu
aku punya hidup sendiri, 
memulai mencari impian


kepada kebanyakan gadis remaja yang menyimpan rasa iri dengan memusuhi semua hal yang melampaui dirinya. -sadar atau tidak-

Minggu, 19 Januari 2014

Komentar Penampilan

Akhir-akhir ini sering ketemu cewek-cewek yang gemar komentarin penampilan. Kadang-kadang dengerin, kadang-kadang diajak ikut komentar. Yang kerudungnya norak , sepatunya lebih mirip sandal, sampai motif atasan bawahan nggak matching semua dikomentarin. Seperti punya kenikmatan sendiri menemukan kekurangan orang terus di share ke orang lainnya.
Kenapa sih selalu komentar penampilan? merasa pakaiannya paling pas? atau tak ada hal yang bisa diomongin? tiap pengomentar punya alibi masing-masing.
kalo jilbabmu gini, boleh deh komentar ._.

Kalo kamu punya temen yang ngajakin komentar penampilan, jangan bangga. Barangkali dia komen tentang kamu dibelakangmu. Tanpa sepengetahuanmu tentunya.
kalo saya sih lebih suka kalo ada hal aneh langsung bilang aja ke saya. Face to face. Jangan malah dibikin bahan bicara dibelakang. Berlakulah seperti bagaimana kamu ingin diperlakukan aja lah

Rabu, 20 November 2013

Blok 8 dan Aneurisma Diseksi Aorta

Menunggu bukan hal gampang, apalagi hal yang ditunggu itu bisa ngerubah hidup seseorang: pengumuman ujian.

Blok 8 ini, seperti blok-blok selanjutnya saya belom pulang sebelum pengumuman. Alhasil saya menikmati kesendirian di antara teman-teman yang siap-siap menuju kampung halaman. Buat mengisi kebengongan yang terus menjadi-jadi saya kembali baca komik Godhand Teru, komik yang bercerita tentang Teru si dokter bedah baru.

Pertama kali baca komik ini sekitar 6 bulan yang lalu tak ada beda dengan membaca komik Detective Conan, tapi selesai blok 8 merasakan feel nikmatnya menebak diagnosis dan terapi pasien yang datang di IGD RS Yasuda Kinen. Bahkan, nomer 32 bercerita tentang Teru yang kesulitan dalam pengenalan bangun ruang merasa kesulitan ketika menangani bedah jantung (blok ini saya mempelajari jantung). Kesulitan membayangkan bangun ruang merupakan kesulitan mutlak dalam belajar anatomi jantung, itu yang saya rasakan sendiri di blok 8.

Salah satu bab menarik di komik ini adalah ketika teru menemui kasus Aneurisma Diseksi Aorta. Dengan gaya khas penulis cerita, awalnya mereka mengira sakit yang dirasakan pasien merupakan sakit dari empedu, appendix atau bagian abdomen lain dan bukan komik Godhand Teru namanya jika tidak ada adegan bedah kolaboratif yang berujung pada kepuasan pasien.

Diseksi aorta? Ketika membaca bab ini saya langsung kepikiran skenario 3 tentang penyakit pembuluh. Yang saya ingat sebatas masuknya darah lewat lapisan aorta (sekitar tunika intima) sehingga membuat rute baru darah. Aorta membengkak dan aliran darah tentunya terganggu. Mungkin juga turbulensi gara-gara "terowongan" baru darah lebih sempit dari semula. Sekedar itu. Etah benar atau salah.



Saya baru sadar kalau ujian kali ini saya sekedar membaca slide kuliah dengan pemikiran ujian blok pasti diambil dari slide kuliah itu. Tanpa buka-buka buku teks lagi.

Padahal, bukan tidak mungkin nantinya saya akan bertemu pasien diseksi aorta. Bagaimana kalau nantinya saya bertemu dengan pasien itu, rasionalkah menjawab: Maaf buk, nggak ada di slide kuliah saya. Ujian juga nggak keluar?

Ketika dokter di jepang sedang giat menjalani proses menjadi dokter generalis,  saya, mahasiswi FK semester 3 di kota kecil timur jawa cuman belajar slide, sekedar buat lulus ujian. Itupun kalau lagi beruntung.

"Ujian bukan tulisan yang tercetak di kertas soal, ujian adalah ketika kamu memegang tongkat estafet yang di Tongkat itulah yang disebut nyawa manusia"

Sabtu, 26 Oktober 2013

Foto di Dynabook

Kisah ini berawal dari laptop acerku yang layarnya pecah terus nggak ketemu servisan yang punya sparepart murahnya sehingga aku balik ke Jember sambil bawa Dynabook lawasku pas SMA. Nama juga laptop lawas pasti super lemot dan super virusan. Buat biar booting timenya cepetan dikit akhirnya koleksi film-film keceku terpaksa dihapus (tapi film GIE sayang banget buat dihapus) dan saat-saat mendebarkan itu pun tiba: buka-buka folder yang dulu aku kasih nama pake nama yang nggak jelas.
Saat itu lah aku ketemu foto-fotoku pas SMA ke Jogja buat studytour. Pas ngeliat foto ini rasanya nano-nano: Pengen nangis, muntah, ketawa, terharu, bahagia dan lain sebangainya. Nih salah beberapa di antaranya
a. Bahagia
aku cumi rida andrin dita




Bahagia banget SMA punya mpok-mpok yang kece. Si Cumi yang digadang-gadang oleh teman-teman mirip sama aku, mpok rida yang jago keyboard dan bisnis online shopnya laris-manis, Andrin yang selalu punya cerita cinta khas anak SMA, dan dita tukang jaga ruang PMR.
b. Terharu
bersama peta (untuk belum tau karvak)
Ke UGM bentar buat tour de FK UGM. Pas itu masuk di ruang anatomi. Pertama kalinya dan rasanya makanan di lambung balik lagi ke esofagus. Asal pegang aja nggak tau kalo itu namanya os. sarcum, foramen ovale, angulus sterni, dan segala istilah lain. Di auditorium FK UGM itu pertama kalinya aku pengen masuk FK. Tiap lihat mbak-mbak yang lagi belajar buku gede-gede di sekitar laboratorium-laboratorium FK UGM yang megah itu rasanya pengen tanya gimana mbak-mbak itu masuk FK. "Ya Allah, aku pengen masuk FK.." gumamku saat itu.
Kalo dulu pas SMA nggak ada satupun temenku yang tau aku bakal milih FK. Jangankan cerita, kalo ada anak yang ngebet masuk FK aja selalu aku kasih petuah ini itu. Dulu temen-temen SMA ngira aku bakal ambil sastra, politik, sejarah atau hal yang berbau soshum. Padahal mana berani aku minta ijin ke ortu buat banting stir ke begituan.
c. Tertawa, muntah, lalu nangis
miring dikit Joss!
Oke, saya pernah sangat alay dan menggila. Istilah gaulnya: liar. Gaya beginian (hampir) di puncak candi borobudur padahal wisatawan lagi rame-ramenya jam segitu. Jarit yang dipinjemi pengelola dibikin sedemikian rupa menjadi suspender dengan sentuhan moderenisasi macanisasi. Dulu sering banget gaya kayak fotonya manohara yang sering ditampilin di silet. Nah ini salah satu modifikasi kegagalannya.

Senin, 02 September 2013

Diversitas Mayoritas

Akhir-akhir ini marak diperbincangkan diversitas; baik lewat film-film pendek maupun diskusi-diskudi santai. Bukan menyoal tentang SARA, namun diversitas tanpa disadari lebih mengarah pada orang-orang minoritas. Tentu saja dengan konklusi minoritas tak selamanya buruk. Soe Hok Gie, dalam kurungan minoritas "Cina yang non agamis" di tahun kejayaan komunisme cina tentu bukan hal mudah di negeri dengan orang-orang yang sedang tersulut api nasionalisme baru. Toh akhirnya karya-karya Soe Hok Gie bisa tetap berdiri di atas keindependensiannya (yang saat itu sangat berani untuk diungkap)

Saya seorang gadis biasa. Bisa dibilang saya mutlak golongan mayoritas: perempuan diantara 70 mahasiswi 2012 di fakultas saya (perbandingan mahasiswa: mahasiswi 3:1) Tentu saja sebagai seorang mayoritas tak mudah untuk mendapatkan sesuatu. Disetiap kepanitiaan khususnya yang memerlukan waktu tempuh ke tempat acara membutuhkan waktu yang lama dikarenakan medan yang sulit, mahasiswa selalu dicari; mahasiswi yang dikurangi. Kadang saya berfikir: Apa benar emansipasi wanita itu benar adanya di zaman populasi meledak seperti ini? Mungkin ini yang luput dari perhatian Ibu Kartini di tahun duapuluhan

Nama saya terlalu pasaran: Icha. Di angkatan saya saja ada 3 nama Icha. Tak mudah memiliki nama yang pasaran (baca: mayoritas). Setidaknya saya harus membiasakan diri memperkirakan siapa yang dipanggil ketika nama Icha disebut.

Saya gadis berjilbab. Sekitar 70 persen mahasiswi di fakultas saya berjilbab. Ketika seorang bertanya tentang saya misalnya, mereka akan menjawab: yang pakai jilbab. Seakan-akan identitas menjadi tergeneralisis

Karena hal-hal inilah saya kurang setuju dengan pembahasan diversitas yang memandang minoritas sebagai hal yang terpojok, satu-satunya. Nyatanya mayoritas sebenarnya lebih terpojok lagi. Minoritas sepertinya hal yang ampuh untuk menunjukkan identitas, sedangkan mayoritas? Entahlah, mungkin benar kata pepatah: Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Selalu ada celah untuk prasangka mengurangi syukur
 

(c)2009 Biskuit Kaleng. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger