Pages

Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Maret 2014

Suatu Angan di Tempat yang Salah

Hai sayangku yang manis,
Kali ini saya mengakui kiranya saya salah memilih tempat untuk menyinggahkan angan, padahal kau tahu saya terlanjur telah menarik angan saya yang sebelumnya saya titipkan pada langit malam berkabut hingga malam ini saya merasa apa yang biasa mereka sebut kalut.
Malam ini perasaan terus membuncah, antara datang dan pergi antara pagi dan malam antara pilihan dan keputusan. Tak penting lagi bagaimana anganku yang terlanjur terpajang di ruang dindingmu yang sangat dingin. Aku terlanjur ingin kembali menjadi individu yang tak terikat oleh apapun dan siapapun. Slogan-sloganmu yang manis itu kini terdengar seperti suara caleg murahan menjelang bulan lima itu membuang segala simbol manusia sebagai makhluk sosial yang mendoktrin sejak baju putih merah. Aku ingin bebas
Ingatlah walau kau mungkin sudah melupakanku diam-diam aku masih mengingat meski baru sekarang aku menyadari: kau tempat yang salah

Selasa, 23 Oktober 2012

Dan Pandangan Anak SMA tentang Mahasiswa adalah...

Blok satu telah usai, blok dua sekarang masuk di minggu ke dua. Blok dua kali ini daur hidup: termasuk didalamnya embriology yang tidak lain tidak bukan adalah bab yang sejak dulu aku amini sebagai blok paling mantabb waktu sma (meski di sma cuman ketemu sekilas aja)
Eh sebenernya kita bicarain ini gak sih?
Tenang aja kok, kali ini aku ingin bercerita tentang anak SMA. Jadi,ketika belajar embriogenesis di laptop, tiba-tiba pengen group walking (di facebook) tentang group anak SMA yang mau ikut snmptn. Dan peristiwa haru biru itu terjadi: memutar memori beberapa bulan silam pas masih jadi anak SMA.
Waktu SMA dulu, apalagi pas bulan awal kelas 12, pasti masih egosentris. Kuliah harus di PTN nomer satu lah, jurusan harus yang menunjukkan intelektual pemuda sebenar-benarnya lah. Pokoknya yang dicari adalah harga diri dan status sosial setinggi-tingginya.
Dan ketika ego itu masih menyebar kesegala arah muncul pertanyaan: Bagaimana sih sebenernya mahasiswa itu?
Dan tak perlu waktu lama untuk merenungkan jawaban pertanyaan itu. Sekitar beberapa minggu setelahnya, di antara jadwal kelas 12 yang terpadatkan, masih ada kesempatan buat melihat bagaimana mahasiswa sesungguhnya ketika aku mengikuti lokalatih esai Kekerasan, Perdamaian, Keindonesiaan di Depok 26-29 Januari 2012 (kalau nggak salah sekitar 88 hari menuju UAN) di sini aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, baik PTN maupun PTS
Salah satu peserta mahasiswa, kalau nggak salah Mbak Mutiani (Univ Lambung Mangkurat- Banjarmasin) berbisik padaku," Acara kayak gini penting banget buat anak SMA, biar tahu gambaran umum kehidupan anak kuliahan."
Ternyata bener, ketika materi, anak SMA yang terbiasa mendengar materi guru selalu mencatat sedangkan mahasiswa tak cukup itu saja, selalu memberikan  tanggapan, baik pertanyaan dan penyataan di akhir sesi. Dan tidak cukup itu saja, setelah sesi materi habis, pasti selalu dilanjutkan diskusi bebas bersama sepuasnya (kalau nggak salah sampai jam 1 pagi) Paling nggak buat anak SMA, bisa buat pengalaman dengerin bagaimana berdiskusi ala mahasiswa itu.
Foto bareng peserta pelajar, mahasiswa, panitia dan pemateri
Secara sederhana dapat disimpulkan: Tak peduli mahasiswa PTN atau PTS, jurusan apapun yang terpenting adalah bagaimana pribadi itu sendiri. Kebebasan berpikir dan mengungkapkan (juga mempertahankan) pemikirirannya sendiri, Mengembangkan pribadi sebagai tonggak perkembangan kemajuan bangsa., dan tentunya kembali ke tugas awal semua siswa: belajar, meski pengabdiaan masyarakat dan bangsa juga suatu yang urgensi mahasiswa.
Sedikit tambahan yang perlu ditekankan di sini: Cintai almamatermu!

Dan saya, Kardiana Izza Ell Milla, mahasiswi fakultas kedokteran Universitas Jember semester satu blok dua akan kembali memasuki alam Daur Hidup secara adult learning dan kembali menggali hubungan intens dengan langman edisi 10. Terima kasih



Sabtu, 15 September 2012

(Tidak) Hanya Sekedar Nama

If you could change your name, what would you change it to?
Pertanyaan ini sekilas muncul, tanpa ada sebeb yang jelas. Nama; bukan hal dibawa dari lahir, namun terbawa sampai mati. unik sekali bukan?
Bicara soal nama, tak semua orang menganggap nama yang bersanding dengan dirinya sudah cocok. Kebanyakan sih merasa risih sebeb namanya terlalu out of date, misalnya untuk anak yang lahir di era 90-an; atau lebibh sederhananya yang kini sudah masuk umur kisaran 13-22, cukup ganjil bila memiliki nama Lilis, Eny, Ninik atau nama lain yang bakal terlihat keren kalo dipasang buat gadis era 80-an
Kardiana Izza Ell Milla. nama yang susah untuk ditulis. Dibaca pun juga rada susah. Itu namaku, pemberian asli orang tua. Tapi kadang-kadang ada yang mengira nama itu nama pena. Pernah ketika kumpul bareng Kopdar Penulis Malang, ada yang nyeletuk, "Dek Icha nama aslinya siapa sih?"
Namaku yang kurang indonesia juga kadang bikin salah paham. Inget banget ketika aku ada acara di cimanggis depok, beberapa orang yang baca namaku awalnya mengira aku adalah cewek indo. padahal perwujudannya jawa tulen.
Pengalaman baru kembali aku dapat ketika aku masuk bangku kuliah. Namaku kardiana, (kardio=jantung) nah semoga yang ini jadi doa semoga bisa jadi spesialis jantung. amin
Lepas itu juga aku dapat istilah baru. Karena yang punya nama panggil icha di angkatanku ada tiga biji, kadang aku dipanggil kardi. Tapi ternyata kardi menurut anak jember asli punya arti lain: Karepe dhewe (Semaunya sendiri) Pasti temen-temen pada ngakak kalo nyebut itu. Biar deh, emang sifat asliku semaunya sendiri :D
Akhir kata, nama saya udah keren kok! kado pertama yang paling indah dari orang tua kita

 

(c)2009 Biskuit Kaleng. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger