Wanita diciptakan untuk laki-laki, dan atas kemauan laki-laki. Kemudian wanita menjadi pelengkap, ya seperti telor goreng dalam mie instan. Boleh satu atau lebih.
Wanita lebih sering jadi obyek pembicaraan, jadi tema berbagai hal: mulai dari gambar belakang truk buntut dengan tulisan kutunggu jandamu hingga jadi alasan beberapa LSM yang mengaku memperjuangkan hak wanita
Ya, wanita selalu menarik.
Saya beruntung menjadi wanita di abad ini, bukan abad di mana kartini yang terkenal lewat surat-suratnya itu terpenjara dalam adatnya. Wanita abad sekarang dianggap jauh lebih mengenal tulisan, pikiran, dan kenal ilmu.
Dan hari ini saya bertemu lagi orang yang meremehkan kami, wanita. Hal yang baru saya dapat setelah 4 tahun masuk dalam dunia ini. Selama ini saya banyak bekerja sama dengan wanita untuk menulis buku antologi (hampir tiga dari lima jumlah buku saya). Saya mengikuti lomba dan kebanyakan wanita yang mengalahkan saya. Tapi perkataan yang saya dengar barusan, bahwa laki-laki akan lebih kritis dibanding wanita: apakah benar semua orang berfikiran demikian?
Saya tak akan membicarakan mengapa laki-laki yang punya hak menjatuhkan talak pada wanita karena semua sudah memiliki kodrat. Saya tak tahu apakah wanita mendengar dan berbicara menggunakan hati itu juga merupakan kodrat, yang jelas bukan karena semua alasan di atas menjadikan alasan wanita bakal hanya punya pena yang tumpul untuk menulis.
Kalau boleh jujur, meski kadang saya memang sering underestimate kemampuan saya (sebagai wanita) tapi kali ini saya geram pada orang yang berkata bahwa wanita itu tak lebih kritis dari lelaki. Kemana perginya penulis wanita hebat yang saya kagumi? Berbicara wanita tidak kritis memang fit untuk keadaan saya saat ini tapi untuk penulis wanita yang lain?
Tahun 2014 dan spekulasi tentang gender terus berlanjut. Berkembanglah terus wanita, kisahkan apa saja yang ada di kepala kalian. Walau sampai nanti kita akan jadi pelengkap, perhiasan atau obyek lain tanpa pernah menjadi subyek.
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Maret 2014
Kata Orang Wanita Tidak Kritis
Label:
buku,
kehidupan senja,
kompetisi,
memori,
Pribadi berkaca
Senin, 13 Agustus 2012
Dokter, Fiksi, dan Etika
Anggapan yang saya amini bahwa dokter; dalam hal ini mahasiswa kedokteran tidak bisa melakukan hal lain yang menyimpang dari kesehariannya di tutorial,eksperimen, kuliah dan lainnya. Setelah saya di terima sebagai mahasiswa fakultas kedokteran, hal-hal menyangkut kepenulisan fiksi sedikit demi sedikit saya longgarkan.
Dalam usaha membatasi kegiatan membaca fiksi, saya menemukan novel yang menarik: Seandainya Aku Boleh Memilih karya Mira W.
Novcel ini bercerita tentang cinta segitiga antara seorang mahasiswi kedokteran bernama Rini , dengan kakak beradik Bandi dan Harris. Beberapa setting tempat ada di kampus Rini -meski tak di sebutkan di universitas mana- lumayan menggambarkan kehidupan mahasiswa kedokteran mulai dari kelas anatomi, co-asisten, dan lainnya. Disamping banyak istilah kedokteran yang dipakai dalam novel ini, cerita yang disajikan amat kompleks. Tak heran bila novel ini akhirnya diangkat oleh indika picture menjadi drama seri 26 episode berjudul cinta yang tayang di tahun 1999
Novel kedua yang saya baca addalah novel Mira W yang berjudul Matahari di batas cakrawala. Rupanya Mira W lagi-lagi terinspirasi kehidupannya sehari-hari yaitu tentang Dokter. Novel ini menceritakan tentang Wita, gadis kota yang menikah dengan dr. Irwan, seorang dokter muda yang dinas di pukesmas kecil di sumatra.
Dalam usaha membatasi kegiatan membaca fiksi, saya menemukan novel yang menarik: Seandainya Aku Boleh Memilih karya Mira W.
Novcel ini bercerita tentang cinta segitiga antara seorang mahasiswi kedokteran bernama Rini , dengan kakak beradik Bandi dan Harris. Beberapa setting tempat ada di kampus Rini -meski tak di sebutkan di universitas mana- lumayan menggambarkan kehidupan mahasiswa kedokteran mulai dari kelas anatomi, co-asisten, dan lainnya. Disamping banyak istilah kedokteran yang dipakai dalam novel ini, cerita yang disajikan amat kompleks. Tak heran bila novel ini akhirnya diangkat oleh indika picture menjadi drama seri 26 episode berjudul cinta yang tayang di tahun 1999
Novel kedua yang saya baca addalah novel Mira W yang berjudul Matahari di batas cakrawala. Rupanya Mira W lagi-lagi terinspirasi kehidupannya sehari-hari yaitu tentang Dokter. Novel ini menceritakan tentang Wita, gadis kota yang menikah dengan dr. Irwan, seorang dokter muda yang dinas di pukesmas kecil di sumatra.
Ada 2 hal penting yang saya dapatkan setelah membaca kedua novel itu. Pertama: saya terlalu mengkerdilkan dunia saya. Anggapan saya tentang fiksi dan kedokteran ternyata salah. Mira W justru bisa menulis puluhan novel ditengah kesibukannya sebagai dokter dan justru dari profesinya sebagai dokter beliau mendapat inspirasi yang brilian
Yang kedua tentang etika. Dalam novel Seandainya Aku Boleh Memilih tokoh utama adalah mahasiswi kedokteran yang playfull dan sedikit melawan kebiasaan. Tentu saja berlawanan dengan etika mahasiswa kedokteran tentang berperilaku. Sedangkan dalam novel Matahari di batas cakrawala tokoh utama, dr Irwan melanggar sumpah dokter tentang menghormati insan sejak dalam pembuahan dengan melakukan abortus therapeuticus kepada Aisah. Akhir cerita, kedua novel ini menyajikan sad ending kepada tokoh utama meski selalu menawarkan masa depan lain sebagai harapan baru.
Kedua novel ini memberi pelajaran yang membekas di benak saya: Dokter, jaga etikamu!
Sabtu, 14 Juli 2012
Review: Malam untuk Soe Hok Gie
Kalsita, nama yang selalu bergema di telingaku. Nama seorang gadis jawa berwajah cantik yang kemauannya keras, sekeras batu kalsit. Gadis manis yang mampu mengubah sejarah. Gadis yang tak pernah kau temui dalam catatan harian Soe Hok Gie, meski ia mencintainya mati-matian
Ya, Kalsita hanya fiksi
Kalsita, potret gadis jawa yang tidak mengikuti arus emansipasi Kartini. Gadis yang disukai Soekarno karena kecerdasannya, gadis yang dicintai Letkol Untung sekaligus gadis yang berani merayu Jendral Yani. Hanya untuk pria yang amat dicintainya, Soe Hok Gie
Ya, Kalsita hanya fiksi
Kalsita, ia tak bakal pernah mengira bahwa semua permainannya bakal merubah negerinya. Yang ia tahu hanyalah Soe Hok Gie, lelaki rapuh yang harus ia lindungi. Meski akhirnya ketulusan hati Untung membawa ia pada bom waktu.
Novel fiksi sejarah yang ditulis oleh Herlinatiens ini berjudul Malam untuk Soe Hok Gie. Membaca judulnya membuat kita mengingat tokoh pemuda bernama Soe Hok Gie yang catatan hariannya yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Novel ini dibuat dengan acuan buku tersebut. Bisa diduga bahwa setting yang dibuat dalam novel ini adalah tahun 1965, ketika Indonesia sedang terombang-ambing dalam pergantian rezim. Semua tokoh yang kita temui dalam novel ini benar-benar nyata, kecuali Kalsita yang sebenarnya fiksi belaka.
Namun, ditambahkannya Kalsita bukan sembarang sebab, karena tokoh inilah yang membuat novel ini semakin hidup. Penulis sangat halus menyulam kejadian asli dengan kejadian fiksi hingga tak nampak jurang pemisah di antara keduanya. Bagi pecinta sejarah, buku ini mengajak kita untuk sejenak berfantasi tentang peristiwa 1965. Bila kita pernah membaca buku Catatan Seorang Demonstran, kita bakal menemukan kejutan-kejutan di tiap halaman novel ini karena Herlinatiens memberikan sentuhan-sentuhan khusus yang tak pernah kita bayangkan ketika membaca CSD. Sebuah fiksi yang seakan-akan menjadi sebuah sumber sejarah yang telah lama hilang.
Ya, Kalsita hanya fiksi
Kalsita, potret gadis jawa yang tidak mengikuti arus emansipasi Kartini. Gadis yang disukai Soekarno karena kecerdasannya, gadis yang dicintai Letkol Untung sekaligus gadis yang berani merayu Jendral Yani. Hanya untuk pria yang amat dicintainya, Soe Hok Gie
Ya, Kalsita hanya fiksi
Kalsita, ia tak bakal pernah mengira bahwa semua permainannya bakal merubah negerinya. Yang ia tahu hanyalah Soe Hok Gie, lelaki rapuh yang harus ia lindungi. Meski akhirnya ketulusan hati Untung membawa ia pada bom waktu.
Novel fiksi sejarah yang ditulis oleh Herlinatiens ini berjudul Malam untuk Soe Hok Gie. Membaca judulnya membuat kita mengingat tokoh pemuda bernama Soe Hok Gie yang catatan hariannya yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Novel ini dibuat dengan acuan buku tersebut. Bisa diduga bahwa setting yang dibuat dalam novel ini adalah tahun 1965, ketika Indonesia sedang terombang-ambing dalam pergantian rezim. Semua tokoh yang kita temui dalam novel ini benar-benar nyata, kecuali Kalsita yang sebenarnya fiksi belaka.
Namun, ditambahkannya Kalsita bukan sembarang sebab, karena tokoh inilah yang membuat novel ini semakin hidup. Penulis sangat halus menyulam kejadian asli dengan kejadian fiksi hingga tak nampak jurang pemisah di antara keduanya. Bagi pecinta sejarah, buku ini mengajak kita untuk sejenak berfantasi tentang peristiwa 1965. Bila kita pernah membaca buku Catatan Seorang Demonstran, kita bakal menemukan kejutan-kejutan di tiap halaman novel ini karena Herlinatiens memberikan sentuhan-sentuhan khusus yang tak pernah kita bayangkan ketika membaca CSD. Sebuah fiksi yang seakan-akan menjadi sebuah sumber sejarah yang telah lama hilang.
Kamis, 10 Mei 2012
Most Wanted Book: ACA by KCCI
Apa kegiatanmu untuk mengisi waktu luang? Membaca kah?
Wah *tepuk tangan meriah* berarti rajin dong, sekaligus klasik -___-
30 hari ini harus fokus snmptn, jadi banyak waktu terbuang buat tidur les. Padahal masih banyak buku yang belum khatam aku baca. Ada buku Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie, Totto chan jilid 2, beberapa buku hadiah dari kompetisi esai. Semuanya masih tersimpan rapi dan berplastik
Yah, beginilah nasib jadi manusia *jreng jreng jreng*
Tapi tetep aja aku pengen satu buku ini. Salah satu cerpenku ada di sini lho.. hehehe. Tapi sampai sekarang aku belum pernah megang bukunya. Tetep penasaran sama cerpen pemenang yang lain. FYI, cerpen ini berisi 20 cerpen pemenang lomba cerpen genre remaja yang diselenggarakan KCCI
Kalo ada yang punya uang berlebih mohon dibeli. Kalo uangnya masih berlebih, mohon belikan satu buat aku. Hehehe
Wah *tepuk tangan meriah* berarti rajin dong, sekaligus klasik -___-
30 hari ini harus fokus snmptn, jadi banyak waktu terbuang
Yah, beginilah nasib jadi manusia *jreng jreng jreng*
Tapi tetep aja aku pengen satu buku ini. Salah satu cerpenku ada di sini lho.. hehehe. Tapi sampai sekarang aku belum pernah megang bukunya. Tetep penasaran sama cerpen pemenang yang lain. FYI, cerpen ini berisi 20 cerpen pemenang lomba cerpen genre remaja yang diselenggarakan KCCI
![]() |
| Harga Rp.44.300 bisa di pesan di leutikaprio.com |
Ngikutin Arus Pocong
Kemarin jalan-jalan ke toko buku, ngeliat banyak buku-buku bergenre pocong, ngikut arus @poconggg. Jadi keinget sama film di bioskop yang lagi musim muterin pocong. yang lagi idiot sanpai yang lagi kungfu sampai yang perawan -___-
Oke, aku ga bakal ikut arus ikutan nulis pocong-pocong. sumpah MALU!
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Empat detik...
dua ribu dua ratus detik...
baru nyadar kalo aku juga udah ikutan nulis cerpen di buku kumcer bertajuk Funny Pocong and Tuyul Around Us
Kumcer ini berisi belasan cerpen tentang humor nyata perhantuan. Alhamdulillah gaada cerita pocong di dalamnya. Judulnya cuman mau mencerminkan kalo kita penulisnya 100% Indonesia asli, meski aku ada keturunan ukraina uzbekistan milan london jadi pake hantu tradisional Indonesia (dan ngikut arus-__-)
Oke, aku ga bakal ikut arus ikutan nulis pocong-pocong. sumpah MALU!
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Empat detik...
dua ribu dua ratus detik...
baru nyadar kalo aku juga udah ikutan nulis cerpen di buku kumcer bertajuk Funny Pocong and Tuyul Around Us
![]() |
| Buku ini belum di tanganku sampai sekarang |
Overall, kumcer ini berisi cerita keren! bikin perut keroncongan kekocok-kocok geli (katanya penulisnya. hehehe)
Udah di launching Maret lalu, tapi menurut koordinator kumcer baru masuk Gramedia sekitar Mei atau Juni. Harganya cuman tiga puluh ribu doang. Beli semua ya! Biarroyaltinya makin gede kami bisa terus bekarya :D
Udah di launching Maret lalu, tapi menurut koordinator kumcer baru masuk Gramedia sekitar Mei atau Juni. Harganya cuman tiga puluh ribu doang. Beli semua ya! Biar





