Pages

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Oktober 2012

Dan Pandangan Anak SMA tentang Mahasiswa adalah...

Blok satu telah usai, blok dua sekarang masuk di minggu ke dua. Blok dua kali ini daur hidup: termasuk didalamnya embriology yang tidak lain tidak bukan adalah bab yang sejak dulu aku amini sebagai blok paling mantabb waktu sma (meski di sma cuman ketemu sekilas aja)
Eh sebenernya kita bicarain ini gak sih?
Tenang aja kok, kali ini aku ingin bercerita tentang anak SMA. Jadi,ketika belajar embriogenesis di laptop, tiba-tiba pengen group walking (di facebook) tentang group anak SMA yang mau ikut snmptn. Dan peristiwa haru biru itu terjadi: memutar memori beberapa bulan silam pas masih jadi anak SMA.
Waktu SMA dulu, apalagi pas bulan awal kelas 12, pasti masih egosentris. Kuliah harus di PTN nomer satu lah, jurusan harus yang menunjukkan intelektual pemuda sebenar-benarnya lah. Pokoknya yang dicari adalah harga diri dan status sosial setinggi-tingginya.
Dan ketika ego itu masih menyebar kesegala arah muncul pertanyaan: Bagaimana sih sebenernya mahasiswa itu?
Dan tak perlu waktu lama untuk merenungkan jawaban pertanyaan itu. Sekitar beberapa minggu setelahnya, di antara jadwal kelas 12 yang terpadatkan, masih ada kesempatan buat melihat bagaimana mahasiswa sesungguhnya ketika aku mengikuti lokalatih esai Kekerasan, Perdamaian, Keindonesiaan di Depok 26-29 Januari 2012 (kalau nggak salah sekitar 88 hari menuju UAN) di sini aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, baik PTN maupun PTS
Salah satu peserta mahasiswa, kalau nggak salah Mbak Mutiani (Univ Lambung Mangkurat- Banjarmasin) berbisik padaku," Acara kayak gini penting banget buat anak SMA, biar tahu gambaran umum kehidupan anak kuliahan."
Ternyata bener, ketika materi, anak SMA yang terbiasa mendengar materi guru selalu mencatat sedangkan mahasiswa tak cukup itu saja, selalu memberikan  tanggapan, baik pertanyaan dan penyataan di akhir sesi. Dan tidak cukup itu saja, setelah sesi materi habis, pasti selalu dilanjutkan diskusi bebas bersama sepuasnya (kalau nggak salah sampai jam 1 pagi) Paling nggak buat anak SMA, bisa buat pengalaman dengerin bagaimana berdiskusi ala mahasiswa itu.
Foto bareng peserta pelajar, mahasiswa, panitia dan pemateri
Secara sederhana dapat disimpulkan: Tak peduli mahasiswa PTN atau PTS, jurusan apapun yang terpenting adalah bagaimana pribadi itu sendiri. Kebebasan berpikir dan mengungkapkan (juga mempertahankan) pemikirirannya sendiri, Mengembangkan pribadi sebagai tonggak perkembangan kemajuan bangsa., dan tentunya kembali ke tugas awal semua siswa: belajar, meski pengabdiaan masyarakat dan bangsa juga suatu yang urgensi mahasiswa.
Sedikit tambahan yang perlu ditekankan di sini: Cintai almamatermu!

Dan saya, Kardiana Izza Ell Milla, mahasiswi fakultas kedokteran Universitas Jember semester satu blok dua akan kembali memasuki alam Daur Hidup secara adult learning dan kembali menggali hubungan intens dengan langman edisi 10. Terima kasih



Sabtu, 14 Juli 2012

Review: Malam untuk Soe Hok Gie

Kalsita, nama yang selalu bergema di telingaku. Nama seorang gadis jawa berwajah cantik yang kemauannya keras, sekeras batu kalsit. Gadis manis yang mampu mengubah sejarah. Gadis yang tak pernah kau temui dalam catatan harian Soe Hok Gie, meski ia mencintainya mati-matian

Ya, Kalsita hanya fiksi
Kalsita,  potret gadis jawa yang tidak mengikuti arus emansipasi Kartini. Gadis yang disukai Soekarno karena kecerdasannya, gadis yang dicintai Letkol Untung sekaligus gadis yang berani merayu Jendral Yani. Hanya untuk pria yang amat dicintainya, Soe Hok Gie

Ya, Kalsita hanya fiksi
Kalsita, ia tak bakal pernah mengira bahwa semua permainannya bakal merubah negerinya. Yang ia tahu hanyalah Soe Hok Gie, lelaki rapuh yang harus ia lindungi. Meski akhirnya ketulusan hati Untung membawa ia pada bom waktu.


Novel fiksi sejarah yang ditulis oleh Herlinatiens ini berjudul Malam untuk Soe Hok Gie. Membaca judulnya membuat kita mengingat tokoh pemuda bernama Soe Hok Gie yang catatan hariannya yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Novel ini dibuat dengan acuan buku tersebut. Bisa diduga bahwa setting yang dibuat dalam novel ini adalah tahun 1965, ketika Indonesia sedang terombang-ambing dalam pergantian rezim. Semua tokoh yang kita temui dalam novel ini benar-benar nyata, kecuali Kalsita yang sebenarnya fiksi belaka.
Namun, ditambahkannya Kalsita bukan sembarang sebab, karena tokoh inilah yang membuat novel ini semakin hidup. Penulis sangat halus menyulam kejadian asli dengan kejadian fiksi hingga tak nampak jurang pemisah di antara keduanya. Bagi pecinta sejarah, buku ini mengajak kita untuk sejenak berfantasi tentang peristiwa 1965. Bila kita pernah membaca buku Catatan Seorang Demonstran, kita bakal menemukan kejutan-kejutan di tiap halaman novel ini karena Herlinatiens memberikan sentuhan-sentuhan khusus yang tak pernah kita bayangkan ketika membaca CSD. Sebuah fiksi yang seakan-akan menjadi sebuah sumber sejarah yang telah lama hilang.

Kamis, 15 Desember 2011

Pemuda, Kematian. dan Rezim: Akankah Terulang Kembali?

            Pemuda, kematian, dan rezim memiliki hubungan yang amatlah kental. Sejarah Indonesia mencatat bahwa perjuangan pergulingan rezim orde lama semakin membara setelah 24 Februari 1966, seorang mahasiswa  bernama Arief Rahman Hakim gugur dalam bentrokan yang terjadi antara pasukan Cakrabirawa dengan para demonstran.
            Hal sama bisa kita temukan kembali pada pelengseran orde baru. Kejadian 12 Mei 1998 tentu masih terbayang dibenak kita sebagai peristiwa yang memilukan bangsa. Aksi demo besar-besaran yang terjadi di kampus Trisakti telah mengorbankan 4 mahasiswanya yang gugur akibat penembakan yang dilakukan pasukan pengamanan. Hal itulah yang semakin membuat masyarakat Indonesia semakin bangkit dalam amarah yang semakin berkobar hingga terjadi kerusuhan di berbagai kota di Indonesia hingga aksi menduduki gedung MPR dengan menuntut reformasi di segala bidang. Orde baru akhirnya berhasil terguling dengan dilakukannya lengser keprabon oleh Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
           Apakah hal yang sama akan terulang kembali?
           Sondang hutagalung(22) melakukan aksi bakar diri pada Rabu (7/12) di depan Istana sebagai bentuk kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintahan yang dianggap buruk. Tentu aksi ini merupakan tamparan keras terhadap pemerintah, sekaligus cambuk kuat yang memacu pemuda khususnya mahasiswa untuk melakukan berbagai aksi solidaritas terhadap aksi api diri tersebut. Banyak yang menilai tewasnya Sondang merupakan kesalahan pemerintah yang tak kunjung berpihak pada rakyat.
         Kita melihat pola yang sama dan berulang: pemuda, kematian, dan rezim sebagai ciri khas lengsernya rezim alias revolusi di Indonesia.Apakah kini pola itu akan terulang kembali?
         Indonesia memang butuh perubahan. Namun, revolusi total untuk perbaikan dalam segala bidang belum cocok untuk diaplikasikan sekarang. Revolusi di Indonesia seperti yang kita dapatkan dalam penumbangan orde lama maupun orde baru tentu melahirkan kerusuhan yang juga menambah jumlah korban. Revolusi harus dilakukan secara siap oleh seluruh masyarakat secara sadar. Bukan hanya satu dua orang yang tak mendapat dukungan dari lainnya sedang ada beberapa pihak yang menginginkan perubahan dengan adanya keuntungan pribadi.
        Kesadaran pribadi; adalah hal yang wajib kita lakukan. Pemerintah hendaknya segera berbebah diri, dan disamping itu pemuda sebagai agent of change wajib untuk melaksanakan tugasnya. Bukan hanya berani mati, namun juga berani hidup untuk perubahan

Sabtu, 12 November 2011

Memilih Komodo: Saya yang Kontra!

Lagi musimnya komodo kali ya..
Misalnya waktu di pembukaan sea games yang obornya menghabiskan 42 elpiji dan ribuan kembang api sejoli komodo mampir kesitu (bukan yang asli tentunya) namanya modo dan modi: sepasang komodo memakai pakaian tradisional
Lucu ya?
Mungkinkah karena modo modi ini berkaki UNESCO bakal menjadikannya sebagai keajaiban dunia?

Pemakaian modo-modi ini bukanlah sesuatu tanpa sebab, sebab pemakaiannya modo-modi ini juga terkait isu pendaftaran komodo dalam pemilihan 7keajaiban dunia yang baru, oleh swasta asal swiss yang mengaku punya hubungan dengan PBB, padahal UNESCO yang seharusnya menetapkan keajaiban dunia dengan bantuan para arkeolog kompeten jelas mengaku tak punya sangkut paut dengan yayasan itu.

Kamu udah dukung komodo? Kamu sih pelit banget, nggak mau cuma 1 rupiah saja buat komodo, mau jadi bangsa apa kalo Indonesia punya kamu yang nggak nasionalis?

Dubes RI di Swiss saja nggak menyaranan kita untuk ikutan beginian (dalam hal ini dubes adalah orang yang paling tahu tentang Swiss) karena memang yayasan berbau  pembohongan seperti ini sering di Swiss, dan itu dilegalkan.
Soal 1 rupiah, siapa bilang tarifnya mentok segitu. Sebenarnya tarif sms tidak hanya 1 rupiah, namun 1000 ruoiah, dengan sponsor (dari Indonesia) biayanya bisa turun.
Tuh kan, ada uang yang terbuang lagi...

Kadang saya binggung, nasionalisme apa sih yang dibicarakan orang-orang? sedangkan dengan vote komodo kita nggak bakal dapat apa-apa.

Pariwisata Indonesia, naikkah?
  Apa yang dijanjikan yayasan itu tentang pariwisata kita? webnya saja sepi pengunjung. Ambil saja contoh kongkretnya, kita pemuda Indonesia yang hobi banget mainan internet. Tapi pernahah kita mampir ke web itu sebelum gaung komodo terdengar? dan tahukah kita siapa pemenang 7wonders tahun kemaren?
binggung kan?
Itulah yang disebut nasionalisme buta, yang paling sering didapat pemuda Indonesia yang latah, seperti saya dan kalian.
Jussuf kalla, duta PMI dan baru-baru ini jadi duta komodo, kabarnya nggak sampai sehari menerima ajakan itu

Seorang teman saya pernah berkata, tak perlu binggung soal omodo, soalnya Belalang Kupu-kuku Indonesia mau dijadikan keajaiban dunia juga, karena lagu Mpok ame-ame bilang kalau hanya di Indonesia belalang dan kupu-kupu bisa makan nasi dan minum susu*bercanda*

Tertawa?
Tertawalah sepuasnya, dalam ironi tentunya.
 

(c)2009 Biskuit Kaleng. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger