Pages

Rabu, 05 Maret 2014

Mungkinkah Dia itu Aku?

"Sejak kapan kamu jadi suka dia?"
"Sejak beberapa hari yang lalu. Di festival itu. Mungkin beberapa jam di sana membuat aku sadar kalau dia spesial."
"Hanya itu?"
"Sayang sekali kamu menolak ikut ajakanku sih, ini tak bisa diungkapkan hanya lewat sebuah obrolan."

Lalu kau pergi. Bersamanya. Walau tangan kalian tak bergenggaman layaknya film romantis tai mata kalian saling berpaut memuja atmosfer cinta yang kalian ciptakan sendiri. Tanpa aku yang telah keluar dari cerita kita.
Kalau saja aku tak menolak ajakanmu, mungkinkah dia itu aku?

Live The Life You Have Imagined

Kali ini saya tergila-gila pada satu quote di kalender yang nempel secara sengaja di dinding kamar saya: Live the life you have imagined. Sangat simpel, tapi kalau dinikmati secara seksama dan diayati dalam kehidupan saya selama ini yang cuman pulang pergi kampus yang jaraknya satu kilo dari kosan pake motor segala membikin satu rumusan masalah bagi saya sendiri: Apakah benar kehidupan ini yang emang dimaui?
Karena inilah bulan februari kemaren saya bikin tulisan di atas kertas gambar dari adek asuh yang udah setengah tahun ngumpet di meja belajar
ceritanya kayak gini...
Alasan list no 1 karena saya sudah lama nggak nulis cerpen (terakhir pas semester 2, itu pun cuman ngedit cerpen lawas buat ditaruh majalah kampusnya temen) dan pas jalan-jalan ke toko buku temen belajar nulis dulu udah pada punya novel solo dan udah terbaring manis di meja dan rak toko buku
lis no 2 karena akhir-akhir ini bikin poster buat desa binaan terus, jadi penasaran kalo bikin bukan karena tugas
list no 3 karena pengen main satu instrument musik yang unik. Karena yang unik itu kok ya mahal, akhirnya kepilih harmonika paling nggak kalo baru harganya nggak menguras kantong. 
eke diatonis 10 h looh
Setelah mencoba tatatitut lagunya John Denver-Country Road hingga penghuni kos yang lain merinding ketakutan karena saya sering memainkannya di malam hari, akhirnya saya menunaikan juga list no 3. Alhamdulillah.
If your dreams don't scare you, they aren't big enough: list untuk bulan maret telah menanti.



Sabtu, 08 Februari 2014

6 Alasan kamu harus tinggal di Jember

          Jember merupakan kabupaten di timur Provinsi Jawa timur. Kabupaten ini digadang-gadang merupakan kabupaten/kota terbesar di Jawa timur setelah Surabaya dan Malang. Meskipun kabupaten ini bukan kabupaten seasyik malang atau surabaya buat destinasi wisata, karena di jember nggak ada wisata alam selain papuma yang diunggulkan oleh pemda tapi Jember cukup unik sebagai kota tinggal. Berikut ini beberapa alasan mengapa kamu emang harus tinggal di jember:

1. Jember merupakan kota kecil yang ada di pulau jawa yang memiliki PTN
Universitas Jember merupakan PTN paling timur di Pulau Jawa, tapi jangan anggap cuman ada 5 fakultas aja di sini. Universitas Jember memiliki 15 fakultas di antaranya Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran gigi, Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Fakultas unggulan lainnya. Dan yang paling penting biaya SPP per semester di kampus ini cukup berkisar 750.000(Sastra, FKIP)-2.000.000 (FK/FKG/Farmasi/PSIK)
emang ga bisa dibandingin ama rektoratnya UI atau UB, tapi gedungnya vintage banget lho


2. Satu kota,berbagai budaya
Satu hal yang bikin kaget pas pertama kali sampai di jember: kota ini ada di jawa, tapi tak hanya orang jawa yang tinggal di sini. Orang jember asli merupakan orang madura asli, peralihan madura-jawa (bisa bahasa madura lancar,jawa dikit), peralihan jawa-madura (jawa lancar, madura dikit), dan jawa (nggak bisa madura sama sekali) dan merasa orang indonesia (nggak bisa bahasa daerah sama sekali; selanjutnya disebut sebagai orang yang merugi). Kalo kamu orang yang cinta budaya dan selalu tertarik mempelajari bahasa baru, daripada kamu belajar bahasa korea yng udah terlalu mainstream, mending ke jember dan nikmati angin dua budaya di kota ini!


3. Makanan murah
Nggak selalu sih, tapi di banding Malang makanan daerah kampus di jember berkisar antara 3000-9000. Tapi hati-hati, Jember merupakan daerah endemik hepatitis A.
3rebu, yang bikin orang madura asli. Rasanya orisinil banget


4. No mall. No 21
Iya, jember nggak punya mall, jadi rada aman buat kantong. si 21 juga belum ngelebrin sayap di jember,cuman ada bioskop bukan franchise yang yang tiketnya seharga 21. Jadi males nonton, uang jadi lebih hemat kan?

5. Olahan  tape di mana-mana
Gegara Jember di daerah tapal kuda, tape merupakan kudapan wajib. dan kue prol tape di sini gede dan enak!
harga 1000-40.000 tergntung ukuran dan tempat pembelian


6. Ada Om Anang di mana-mana
Percayalah, kamu bakal nemu foto Om Anang di mana-mana. Di jalan, di angkot (kalo di jember nyebutnya lin) , di restoran-restoran bahkan yang mewah sekalipun. Om Anang udah bagaikan pangeran yang bisa dijadiin simbol kesuksesan di Jember apalagi setelah om ini bikin resepsi besar-besaran (yang disebut pemda buat narik minat turis) dan dikirab pake kereta kencana. Sungguh fantastis dan mengharukan!
Pangran dan putri dari negeri dongeng hahaha


Ya begitulah Jember, masih berminat tinggal di kabupaten ini kan?

Selasa, 04 Februari 2014

Semendal

Saya tak tahu apakah semendal itu salah satu kata bahasa jawa yang masuk pepak atau tidak. Yang jelas, secara sederhana artinya  rasa ketika kamu mengingat orang tuamu saat kamu diperantauan. Ingin  menangis tak boleh, diam saja juga tak bisa: Luar biasa sakit.

Sabtu, 01 Februari 2014

Cukup Sepertimu


Bagaimana cara agar aku dapat jadi sepertimu?
Kamu selalu ceria, kamu cerahi semua
Matamu memuncul asa, seakan tiada duka

Bagaimana cara agar aku bisa suka kamu?
semakin cerah dirimu, semakin enggan aku
kamu seakan bintang terang,
sedang aku jadi hilang

Bagaimana cara agar aku tak membencimu?
sedang hati ini terus meradang iri
selalu mencari kesalahanmu
hingga hilang jati diriku

Hei, cukup sepertimu
membuatku takut
dan hei, cukup sampai sini
kali ini aku menyerah, tak mengekorimu
aku punya hidup sendiri, 
memulai mencari impian


kepada kebanyakan gadis remaja yang menyimpan rasa iri dengan memusuhi semua hal yang melampaui dirinya. -sadar atau tidak-

Minggu, 19 Januari 2014

Komentar Penampilan

Akhir-akhir ini sering ketemu cewek-cewek yang gemar komentarin penampilan. Kadang-kadang dengerin, kadang-kadang diajak ikut komentar. Yang kerudungnya norak , sepatunya lebih mirip sandal, sampai motif atasan bawahan nggak matching semua dikomentarin. Seperti punya kenikmatan sendiri menemukan kekurangan orang terus di share ke orang lainnya.
Kenapa sih selalu komentar penampilan? merasa pakaiannya paling pas? atau tak ada hal yang bisa diomongin? tiap pengomentar punya alibi masing-masing.
kalo jilbabmu gini, boleh deh komentar ._.

Kalo kamu punya temen yang ngajakin komentar penampilan, jangan bangga. Barangkali dia komen tentang kamu dibelakangmu. Tanpa sepengetahuanmu tentunya.
kalo saya sih lebih suka kalo ada hal aneh langsung bilang aja ke saya. Face to face. Jangan malah dibikin bahan bicara dibelakang. Berlakulah seperti bagaimana kamu ingin diperlakukan aja lah

Rabu, 20 November 2013

Blok 8 dan Aneurisma Diseksi Aorta

Menunggu bukan hal gampang, apalagi hal yang ditunggu itu bisa ngerubah hidup seseorang: pengumuman ujian.

Blok 8 ini, seperti blok-blok selanjutnya saya belom pulang sebelum pengumuman. Alhasil saya menikmati kesendirian di antara teman-teman yang siap-siap menuju kampung halaman. Buat mengisi kebengongan yang terus menjadi-jadi saya kembali baca komik Godhand Teru, komik yang bercerita tentang Teru si dokter bedah baru.

Pertama kali baca komik ini sekitar 6 bulan yang lalu tak ada beda dengan membaca komik Detective Conan, tapi selesai blok 8 merasakan feel nikmatnya menebak diagnosis dan terapi pasien yang datang di IGD RS Yasuda Kinen. Bahkan, nomer 32 bercerita tentang Teru yang kesulitan dalam pengenalan bangun ruang merasa kesulitan ketika menangani bedah jantung (blok ini saya mempelajari jantung). Kesulitan membayangkan bangun ruang merupakan kesulitan mutlak dalam belajar anatomi jantung, itu yang saya rasakan sendiri di blok 8.

Salah satu bab menarik di komik ini adalah ketika teru menemui kasus Aneurisma Diseksi Aorta. Dengan gaya khas penulis cerita, awalnya mereka mengira sakit yang dirasakan pasien merupakan sakit dari empedu, appendix atau bagian abdomen lain dan bukan komik Godhand Teru namanya jika tidak ada adegan bedah kolaboratif yang berujung pada kepuasan pasien.

Diseksi aorta? Ketika membaca bab ini saya langsung kepikiran skenario 3 tentang penyakit pembuluh. Yang saya ingat sebatas masuknya darah lewat lapisan aorta (sekitar tunika intima) sehingga membuat rute baru darah. Aorta membengkak dan aliran darah tentunya terganggu. Mungkin juga turbulensi gara-gara "terowongan" baru darah lebih sempit dari semula. Sekedar itu. Etah benar atau salah.



Saya baru sadar kalau ujian kali ini saya sekedar membaca slide kuliah dengan pemikiran ujian blok pasti diambil dari slide kuliah itu. Tanpa buka-buka buku teks lagi.

Padahal, bukan tidak mungkin nantinya saya akan bertemu pasien diseksi aorta. Bagaimana kalau nantinya saya bertemu dengan pasien itu, rasionalkah menjawab: Maaf buk, nggak ada di slide kuliah saya. Ujian juga nggak keluar?

Ketika dokter di jepang sedang giat menjalani proses menjadi dokter generalis,  saya, mahasiswi FK semester 3 di kota kecil timur jawa cuman belajar slide, sekedar buat lulus ujian. Itupun kalau lagi beruntung.

"Ujian bukan tulisan yang tercetak di kertas soal, ujian adalah ketika kamu memegang tongkat estafet yang di Tongkat itulah yang disebut nyawa manusia"
 

(c)2009 Biskuit Kaleng. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger