Dia suka merah, sesuka kamu ketika menyadari kaos yang kamu pakai sewarna dengan dia. Dia tipikal cowok yang sering kamu lihat di Nakayoshi, tabloid komik kesukaanmu saat itu. Dia selalu lewat depan rumahmu dan sejak pertama kali kamu menyadari kamu mendapat ketertarikan pada cowok kelas 6 SD itu, kamu menjadi berani duduk di atas atap, sekedar melihat cowok itu bermain bola di lapangan. Suatu hal hebat bagi kamu yang seorang gadis kelas 5SD
Rumanya hanya beda blok dengan rumahmu. Tapi sungguh sial, seperti konflik pada novel-novel remaja cowok itu akhirnya pindah rumah. Padahal sampai saat itu kamu tak pernah mengobrol atau menyapanya. Kamu tahu namanya pun dari teman-temanmu lain. Sampai saat itu pula kamu tak tahu apakah ia tahu namamu. Sekedar tahu.
Padahal kamu ingin tahu nantinya cowok itu melanjutkan sekolah di mana. Apakah mungkin dia menjadi kakak kelasmu. Siapakah pacar pertamanya kelak. Setidaknya ketika dia masih berbeda blok denganmu kamu punya hubungan spesial dengannya: Kawan sekampung. Lebih tepatnya Anak sepantaran yang kebetulan tinggal di satu kampung. Hanya sederhana
Dan di malam ini, tetiba kamu bertemu dengannya lagi. Delapan tahun memang telah berlalu, namun ia tetap sama: menyukai warna merah sesuka kamu menyukai kaos yang kamu pakai satu warna dengannya.
Delapan tahun lalu, bukannya waktu yang cukup untuk menghimpun keberanian?
Jumat, 19 Juli 2013
Minggu, 24 Februari 2013
Kenangan
Kenangan ini tentang kita. Sayang bukan milik kita. Hanya milikku dan (mungkin) milikmu
Label:
gejeh ppyb
Sebuah Paragraf Pendek yang Ternoda: Kamu di Februari
Februari ini ada aku dan ada kamu. Tapi tak ada kita. Hanya ada kami: aku dan dia. Tunggu februari depan.
Label:
gejeh
Selasa, 01 Januari 2013
and 2013 makes me..
2012 telah berakhir, mengenang 2012 kebahagiaan yang mengantarkan pada singkatnya hidup ini. Kini kebahagiaanku bertambah menjadi 2013: Memiliki kamu
Minggu, 04 November 2012
Cinta: Skenario Kehidupan
Kasus 1
Sepasang kekasih. Pria 21 tahun, wanita 18 tahun. Lulusan SMK yang sama. Menikah awal tahun ini. Wanita sudah berbadan dua sejak bulan kemarin. Wanita sering merasa kesepian akibat ditinggal kerja lelakinya. Mesra di sosmed selalu jadi hal utama.
Kasus 2
Sepasang kekasih. Pria 23 tahun, wanita 22 tahun. Mahasiswa fisip dan mahasiswi fib semester akhir di kampus terbaik di Indonesia. Belum memikirkan untuk menikah. Menjadikan pasangannya sebagai partner in crine dengan membuat event-event kecil berdua penuh surprise hampir tiap minggu. Tidak suka bermesraan di depan umum.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta pasangan-pasangan tersebut? itulah skenario kehidupan. Dan skenario itu yang selalu membikin saya hobi berkepo :P
Sepasang kekasih. Pria 21 tahun, wanita 18 tahun. Lulusan SMK yang sama. Menikah awal tahun ini. Wanita sudah berbadan dua sejak bulan kemarin. Wanita sering merasa kesepian akibat ditinggal kerja lelakinya. Mesra di sosmed selalu jadi hal utama.
Kasus 2
Sepasang kekasih. Pria 23 tahun, wanita 22 tahun. Mahasiswa fisip dan mahasiswi fib semester akhir di kampus terbaik di Indonesia. Belum memikirkan untuk menikah. Menjadikan pasangannya sebagai partner in crine dengan membuat event-event kecil berdua penuh surprise hampir tiap minggu. Tidak suka bermesraan di depan umum.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta pasangan-pasangan tersebut? itulah skenario kehidupan. Dan skenario itu yang selalu membikin saya hobi berkepo :P
Label:
gejeh
Rabu, 24 Oktober 2012
Pengejar Kata yang Sangat Sensitif itu Mungkin Lupa
Ada satu sifat berupa kata, tingkat iritasinya bila diperdengarkan untuk saat ini (menurut saya) hampir mendekati sensitifitas Indonesia terhadap isu SARA. Kata ini sering terjadi pada orang sekitar kita. Mungkin juga kita termasuk pengejarnya. Ciri-ciri pengejarnya adalah pengejar biasanya memperlakukan kata itu sebagai tujuan, namun hanya sebagai hadiah tambahan yang datang sendiri dari perilakunya. Pengejar biasanya memiliki ambisi yang begitu semerbak di antara yang lain.
Tergiurnya dengan pengakuan sosial setinggi-tingginya merupakan penyebab utama diinginkan satu kata ini. Dengan kata ini, dijamin pemiliknya memiliki kekontrasan yang absolut antara ada dan tiadanya. Segala tindak-tanduk pemilik kata ini akan terekam baik di antara orang lain. Tentu saja, semakin banyak yang mengingat semakin tebal kata ini dimiliki
Para pengejar kata ini biasanya lupa: semakin di atas, semakin angin bertiup kencang. Akhirnya dengan segala hal yang bisa menutup angin itu;baik buruk atau baik dilakukan saja. Dan kapan hal ini berakhir? tiada yang tahu pasti.
Apakah kau tahu apa kata yang aku maksud? Bila kau tahu, jaga kata itu baik-baik, jangan kau pamerkan pada siapapun. Anggap ini rahasiaku yang kubagi kepadamu.
(dari sebuah renungan bersama Bagus dan Intan di Kehidupan Senja. Lagi-lagi ia mengajariku kehidupan)
Tergiurnya dengan pengakuan sosial setinggi-tingginya merupakan penyebab utama diinginkan satu kata ini. Dengan kata ini, dijamin pemiliknya memiliki kekontrasan yang absolut antara ada dan tiadanya. Segala tindak-tanduk pemilik kata ini akan terekam baik di antara orang lain. Tentu saja, semakin banyak yang mengingat semakin tebal kata ini dimiliki
Para pengejar kata ini biasanya lupa: semakin di atas, semakin angin bertiup kencang. Akhirnya dengan segala hal yang bisa menutup angin itu;baik buruk atau baik dilakukan saja. Dan kapan hal ini berakhir? tiada yang tahu pasti.
Apakah kau tahu apa kata yang aku maksud? Bila kau tahu, jaga kata itu baik-baik, jangan kau pamerkan pada siapapun. Anggap ini rahasiaku yang kubagi kepadamu.
(dari sebuah renungan bersama Bagus dan Intan di Kehidupan Senja. Lagi-lagi ia mengajariku kehidupan)
Label:
kehidupan senja,
Pribadi berkaca
Selasa, 23 Oktober 2012
Dan Pandangan Anak SMA tentang Mahasiswa adalah...
Blok satu telah usai, blok dua sekarang masuk di minggu ke dua. Blok dua kali ini daur hidup: termasuk didalamnya embriology yang tidak lain tidak bukan adalah bab yang sejak dulu aku amini sebagai blok paling mantabb waktu sma (meski di sma cuman ketemu sekilas aja)
Eh sebenernya kita bicarain ini gak sih?
Tenang aja kok, kali ini aku ingin bercerita tentang anak SMA. Jadi,ketika belajar embriogenesis di laptop, tiba-tiba pengen group walking (di facebook) tentang group anak SMA yang mau ikut snmptn. Dan peristiwa haru biru itu terjadi: memutar memori beberapa bulan silam pas masih jadi anak SMA.
Waktu SMA dulu, apalagi pas bulan awal kelas 12, pasti masih egosentris. Kuliah harus di PTN nomer satu lah, jurusan harus yang menunjukkan intelektual pemuda sebenar-benarnya lah. Pokoknya yang dicari adalah harga diri dan status sosial setinggi-tingginya.
Dan ketika ego itu masih menyebar kesegala arah muncul pertanyaan: Bagaimana sih sebenernya mahasiswa itu?
Dan tak perlu waktu lama untuk merenungkan jawaban pertanyaan itu. Sekitar beberapa minggu setelahnya, di antara jadwal kelas 12 yang terpadatkan, masih ada kesempatan buat melihat bagaimana mahasiswa sesungguhnya ketika aku mengikuti lokalatih esai Kekerasan, Perdamaian, Keindonesiaan di Depok 26-29 Januari 2012 (kalau nggak salah sekitar 88 hari menuju UAN) di sini aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, baik PTN maupun PTS
Salah satu peserta mahasiswa, kalau nggak salah Mbak Mutiani (Univ Lambung Mangkurat- Banjarmasin) berbisik padaku," Acara kayak gini penting banget buat anak SMA, biar tahu gambaran umum kehidupan anak kuliahan."
Ternyata bener, ketika materi, anak SMA yang terbiasa mendengar materi guru selalu mencatat sedangkan mahasiswa tak cukup itu saja, selalu memberikan tanggapan, baik pertanyaan dan penyataan di akhir sesi. Dan tidak cukup itu saja, setelah sesi materi habis, pasti selalu dilanjutkan diskusi bebas bersama sepuasnya (kalau nggak salah sampai jam 1 pagi) Paling nggak buat anak SMA, bisa buat pengalaman dengerin bagaimana berdiskusi ala mahasiswa itu.
Secara sederhana dapat disimpulkan: Tak peduli mahasiswa PTN atau PTS, jurusan apapun yang terpenting adalah bagaimana pribadi itu sendiri. Kebebasan berpikir dan mengungkapkan (juga mempertahankan) pemikirirannya sendiri, Mengembangkan pribadi sebagai tonggak perkembangan kemajuan bangsa., dan tentunya kembali ke tugas awal semua siswa: belajar, meski pengabdiaan masyarakat dan bangsa juga suatu yang urgensi mahasiswa.
Sedikit tambahan yang perlu ditekankan di sini: Cintai almamatermu!
Dan saya, Kardiana Izza Ell Milla, mahasiswi fakultas kedokteran Universitas Jember semester satu blok dua akan kembali memasuki alam Daur Hidup secara adult learning dan kembali menggali hubungan intens dengan langman edisi 10. Terima kasih
Eh sebenernya kita bicarain ini gak sih?
Tenang aja kok, kali ini aku ingin bercerita tentang anak SMA. Jadi,ketika belajar embriogenesis di laptop, tiba-tiba pengen group walking (di facebook) tentang group anak SMA yang mau ikut snmptn. Dan peristiwa haru biru itu terjadi: memutar memori beberapa bulan silam pas masih jadi anak SMA.
Waktu SMA dulu, apalagi pas bulan awal kelas 12, pasti masih egosentris. Kuliah harus di PTN nomer satu lah, jurusan harus yang menunjukkan intelektual pemuda sebenar-benarnya lah. Pokoknya yang dicari adalah harga diri dan status sosial setinggi-tingginya.
Dan ketika ego itu masih menyebar kesegala arah muncul pertanyaan: Bagaimana sih sebenernya mahasiswa itu?
Dan tak perlu waktu lama untuk merenungkan jawaban pertanyaan itu. Sekitar beberapa minggu setelahnya, di antara jadwal kelas 12 yang terpadatkan, masih ada kesempatan buat melihat bagaimana mahasiswa sesungguhnya ketika aku mengikuti lokalatih esai Kekerasan, Perdamaian, Keindonesiaan di Depok 26-29 Januari 2012 (kalau nggak salah sekitar 88 hari menuju UAN) di sini aku bertemu dengan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, baik PTN maupun PTS
Salah satu peserta mahasiswa, kalau nggak salah Mbak Mutiani (Univ Lambung Mangkurat- Banjarmasin) berbisik padaku," Acara kayak gini penting banget buat anak SMA, biar tahu gambaran umum kehidupan anak kuliahan."
Ternyata bener, ketika materi, anak SMA yang terbiasa mendengar materi guru selalu mencatat sedangkan mahasiswa tak cukup itu saja, selalu memberikan tanggapan, baik pertanyaan dan penyataan di akhir sesi. Dan tidak cukup itu saja, setelah sesi materi habis, pasti selalu dilanjutkan diskusi bebas bersama sepuasnya (kalau nggak salah sampai jam 1 pagi) Paling nggak buat anak SMA, bisa buat pengalaman dengerin bagaimana berdiskusi ala mahasiswa itu.
| Foto bareng peserta pelajar, mahasiswa, panitia dan pemateri |
Sedikit tambahan yang perlu ditekankan di sini: Cintai almamatermu!
Dan saya, Kardiana Izza Ell Milla, mahasiswi fakultas kedokteran Universitas Jember semester satu blok dua akan kembali memasuki alam Daur Hidup secara adult learning dan kembali menggali hubungan intens dengan langman edisi 10. Terima kasih
